Wheeeeellllll, hari ini adalah 8
Juli 2014. Sudah saatnya gue nentuin pilihan gue buat besok. Beberapa bulan
yang lalu gue dilanda galau politik akut bak milah-milih istri yang masih
perawan di jaman sekarang. Iya bener nyari capres yang bener-bener perfect
untuk Indonesia di tahun 2014 ini emang sesusah nyari istri yang bener-bener
masih perawan ting-ting belum tersentuh seorang cowok pun, ya katanya ini jaman
modern Men, dimana kalau pacaran itu wajib minimal ciuman katanya, katanya loh
ya!
Kembali ke capres. Yak sekarang ini
Indonesia bener-bener baru dilanda krisis pemimpin, banyak orang yang ingin
mencalonkan dirinya sebagai presiden, namun menurut gue nggak ada satupun dari
mereka yang cocok buat jadi pemimpin bangsa kita. Waktu itu diantara banyak pencapres termasuk si Farhad Abbas si Soak yang katanya juga siap maju nyapres itu mata gue justru
melirik beberapa tokoh yang bisa dikatakan nggak tertarik buat nyapres tapi punya potensi buat jadi presiden. Tokoh itu adalah Anies
Baswedan, Joko Widodo dan Risma walikota Surabaya. Waktu itu gue mikir dari
ketiga nama diatas nggak bakalan ada yang mencalonkan dirinya sebagai calon
presiden. Sampai akhirnya Pak Jokowi maju juga.
Gak bisa di pungkiri awalnya gue
adalah fans berat dari Jokowi, kalau pada nggak percaya silahkan lihat beberpa akun
sosmed gue, ketika Jokowi menang di pilgub DKI gue turut mengekspresikan
kebahagian gue, bahkan waktu itu gue ikut ber-selebrasi bareng ibu-ibu pedagan
di pasar gede atas kemenangan Jokowi di Pilgub DKI, ada kok buktinya foto masih
ada di Instagram. Kalau masih nggak percaya lagi tanya tuh sama mantan yang diambil orang haha, dia harusnya msaih inget segila apa gue ngefans Jokowi. Namun seiring berjalanya waktu kepercayaan gue terhadap
Jokowi mulai pudar terutama ketika mulai datang isu bahwa dirinya bakal maju sebagai calon
presiden RI, entah kenapa gue jadi nggak begitu condong ke Jokowi, mungkin ini pengaruh dari prasangka-prasangka negatif gue ke partai pengusung Jokowi dan beberapa orang dibelakangnya serta yang paling utama adalah karena ulah para relawanya
yang kadang buat gue risi karena seolah mereka mendewakan Jokowi. Iya, seolah-olahtu mereka nganggep jokowi nggak pernah ada salahnya, apapun itu asal jokowi yang nglakuin bener ajaaaa terus, nggak ada salahnya pokoknya.
Selain dua hal diatas gue juga risi
banget sama sifat jokowi yang terlalu reaktif dengan isu-isu yang menyerangnya,
sampai-sampai dia harus pergi umroh karena di serang kalau dirinya non muslim. Gue
kira nggak perlu se reaktif itu juga kali, dulu Boedieono juga di fitnah dengan
isu yang sama kalau dirinya non-muslim, tapi dianya juga cuek aja kok. Dari situ gue mulai melirik
Prabowo yang lebih berbesar hati menerima isu-isu negatif yang menyerang
dirinya, ya walaupun kalau dilihat dari
timsesnya sih sebenernya juga sama aja dengan sikap timses Jokowi, tapi
setidaknya Prabowo sendiri tetep steii kul sama isu negatif yang nyerang dirinya itu adalah sikap yang baik sebagai
seorang negarawan, sekalipun mungkin itu Cuma pencitraan atau gimana tapi menurut
gue langkah yang diambil Prabowo buat naggepin isu-isu negatif itu sangat tepat.
Entah kenapa semakin hari gue
semakin tertarik dan condong ke Prabowo di bandingkan Jokowi, Padahal dulunya
gue dan keluarga sama sekali nggak suka pada beliau, apa mungkin gara-gara “gething
nyanding ya?” Ya bisa jadi sih. Tapi gue juga nggak begitu gampangnya langsung percaya
sama beliau sih, apalagi dengan latar belakang masalah di masa lalunya yang udah
jadi rahasia Umum. Waktu tertarik buat milih prabowo muncul juga sih berbagai pertanyaan. Apakah mungkin seorang
mantan pelanggar HAM mampu membawa Indonesia lebih baik? Apa mungkin seorang
yang katanya dipecat secara tidak hormat oleh instansinya karena suatu masalah
besar mampu menjadi seorang pemimpin Negara? Dan banyaklah pertanyaan lain yang
membuat gue serba dilemma mau milih siapa.
Jawaban demi jawaban dari
pertanyaan gue itu pun mulai gue dapati dan gue fahami. Hingga akhirnya gue
punya satu kesimpulan Memang benar Prabowo bermasalah di masalalunya, tapi apa
selamanya orang yang buruk akan selalu buruk sikapnya sepanjang dia hidup? Gue piker
nggak! Kalau mau lihat dari sejarah Islam juga ada contohnya kok, yang paling sangar ya Ummar Bin Khatab, pada awalnya beliau juga
orang yang sangat bermasalah bahkan memusuhi Islam, memukuli orang yang masuk Islam, bahkan sampai adiknya sendiri dia pukul gara-gara baca Al-Qur'an, tapi Allah nggak tidur Umar pun mendapat hidayah, dibukalah mata hatinya hingga akhirnya di mau
berjuang dengan rasululloh bahkan sempat menjadi seorang khalifah yang sangat berjasa
bagi umat Islam. Dari situ kita tahu Semua orang bisa saja
berubah, yang buruk bisa jadi baik dan sebaliknya yang baik bisa jadi berubah menjadi lebih buruk.
Semakin bertambah hari bertambah
pula keyakinan gue terhadap prabowo, sekalipun banyak sekali isu negatif yang
menyerang beliau, gue merasa kalau itu adalah suatu ketidak mungkinan, iya gue langsung aja nggak percaya. Entah itu
keluar karena mata gue telah di butakan oleh syaitan sehingga nggak mamu melihat suatu kebenaran atau karena telah
dibukakan oleh tuhan gue juga nggak tau, yang jelas saat ini menurut presepsi
gue dari kedua capres memang tidak ada satupun yang sempurna, semua pasti
membawa madharat, namun diantara mereka pasti ada yang memberikan mudharat yang
paling kecil dan menurut gue orang itu adalah PRABOWO SUBIANTO.
Alhamdulillah saat ini gue mampu
meyakinkan orang tua dan juga sebagian dari keluarga gue untuk memilih Prabowo
Subianto, sekalipun pada awalnya mereka cenderung mendukung capres nomor 2 atas
alasan berasal dari rakyat, peduli terhadap rakyat dan podo-podo wong solone.
Yap inilah akhir dari tulisan gue,
berapapun jumlah jari yang kita tunjukan 1 atau 2, kita semua tetap bersaudara,
kita tetap 1 Indonesia, kita boleh berbeda tapi jiwa kita tetap 1 Indonesia.
Salam 2 Jari untuk pemilu yang damai J