Akhir-akhir
ini kebijakan pemerintah akan menghapuskan bensin dengan RON 88 (Premium) di
bulan Mei telah menjadi Hot News diberbagai media, dalam media diberitakan bahwa
penghapusan Premium ini akan dibarengkan dengan peluncuran produk bensin baru
yang digadang-gadang akan memiliki kualitas yang lebih tinggi yaitu dengan RON
antara 90-91. Bensin jenis baru ini rencananya akan diberi nama yang
kebarat-baratan seperti produk lain sebelumnya, adapun nama bensin baru itu
adalah Pertalite.
Berdasarkan
keterangan pemerintah Pertalite ini merupakan bensin penengah antara Premium
dengan Pertamax, dimana Pertalite diklaim oleh pemerintah memiliki kualitas
yang lebih baik dari Premium sehingga mampu menghasilkan pembakaran lebih sempurna
alhasil tarikan mesin akan semakin halus, lebih ramah lingkungan, dan jarak
yang dapat ditempuh akan lebih jauh, namun demikian harga Pertalite ini akan
tetap berada dibawah Pertamax 92.
Mendengar
kebijakan tersebut terbesit dua hal yang sangat bertentangan dalam pikiran saya,
dimana disatu hal saya sangat setuju dengan kebijakan tersebut karena pastinya
akan berdampak baik pada lingkungan. Apalagi menginggat Bensin dengan RON 88
sebenarnya juga sudah tidak memenuhi standar internasional lagi. Bahkan regulasi
negara-negara lain di ASEAN saja sudah megatur bahwa RON minimal untuk bensin
adalah 92 atau setara dengan Pertamax sesuai dengan standar EURO 3, itu artinya
jika pemerintah meluncurkan bensin alternatif dengan RON 90-91 sebenarnya tetap
saja masih di bawah standar internasional.
Kedati
demikian upaya pemerintah untuk menciptakan bensin yang lebih ramah lingkungan
ini patut dihargai karena setidaknya sudah ada upaya dari pemerintah untuk
turut serta dalam pelestarian lingkungan. Namun dalam penghapusan bensin
Premium ini aspek ekonomi juga harus diperhitungkan, jika Pertalite sebagai
bensin penganti ini diluncurkan dengan harga yang terlalu jauh dari harga Premium
itu juga akan sangat merugikan bagi rakyat. Rakyat justru akan semakin
terbebani dengan semakin mahalnya bahan bakar minyak.
Sedangkan
biasanya ketika harga BBM naik efeknya tidak hanya diam disitu saja, melainkan
akan berdampak seperti Domino Effect dimana
ketika BBM naik, dia justru akan berimbas pada harga barang-barang yang ada
disekitarnya “ harganya ikut naik”
dan ketika harga barang suatu sudah naik juga akan masih berimbas pula pada
kenaikan harga barang lain, begitulah seterusnya tanpa ada hentinya kalau
memang sudah demikian. Akhirnya rakyat lagi yang jadi korban, biaya hidup
semakin mahal.
Ditambah
lagi jika terjadi kenaikan harga bensin kelas bawah, mendekati kelas menengah
(Pertamax) itu juga akan menguntungkan pihak asing. Perusahaan-perusahaan
retail BBM asing yang masuk di Indonesia seperti Sheel, Petronas, dan Total
akan semakin meninggkat tingkat penjualanya. Mengingat sekarang saja harga jual
yang mereka tawarkan untuk bensin dengan RON 92 dan RON 95 sudah nyaris sama
dengan Pertamax 92 dan Pertamax Plus 95. Apalagi dengan kebiasaan sebagian
masyarakat Indonesia yang selalu menganggap produk asing adalah produk terbaik,
semakin terbukalah peluang Pertamina untuk mengalami penurunan Omset. Memang
saat ini outlet-outlet mereka di Indonesia masih sangat terbatas, tapi dengan
potensi yang semakin besar karena naiknya harga BBM kelas Ekonomi di Indonesia
dan modal mereka di Negara asal yang kuat bisa saja mereka membuat outlet disamping
setiap SPBU Pertamina.
Hmm,
melihat dari dua hal yang sangat kontraditif diatas saya sekarang jadi bimbang
sebenarnya mana ya yang menjadi tujuan utama pemerintah untuk menghapuskan
Premium? Ataukah benar-benar atas alasan kelestarian lingkungan atau justru “mungkin” karena ada deal-deal tertentu
oleh pihak-pihak asing yang sedang berkembang di Indonesia itu? Yaa saya
pribadi juga tidak tahu menahu kalau soal itu. Kemungkinan bisa saja terjadi
kan? Ah tapi entahlah, saya pribadi sih cuma berharap penghapusan bensin Premium
ini memang benar-benar atas alasan lingkungan, bukan karena lobi-lobi. Sehingga
dalam penetapan harga bensin Pertalite pemerintah juga akan memberikan selisih
harga yang bisa membuat rakyat berpikir untuk tetap menggunakan bensin produk
dalam negeri.