Kacamata SofyanRian

Semua aku ungkapkan dari caraku memandang. Tak peduli orang memandang lain, aku akan tetap memandang dari sudut dimana seharusnya aku memandang karena setiap kacamata memiliki sudut pandang tersendiri.

Minggu, 15 Maret 2015

AKU

Minggu, 15 Maret 2015


Malam ini pukul setengah 12 malam tepat aku benar-benar merasa gundah, di ujung ranjang tidurku aku merasa sangat sepi. Entah kenapa hati ini mengajaku untuk bermuram, aku tak tau apa maksudnya aku juga tak tau apa maunya. Akhir-akhir ini menjadi hal yang rumit bagiku suasana hatiku bisa mendadak saja jadi tak menentu. Jika engkau tanya kenapa begitu, aku hanya punya satu saja jawaban yang sangat ringkas “Aku tidak tahu.”
                Ini adalah suatu hal yang sangat aneh aku tak tau kenapa emosiku terlaru sering mengajaku dalam suasana sendu? Apa mungkin ini adalah efek dari perubahan menuju dewasa dan aku tidak mempunyai karya apa pun di usiaku yang demikian? Umurku sudah mendekati 2 dasawarsa, aku telah lumayan jauh berjalan, berkali-kali aku salah melangkah bahkan tak jarang aku tersesat, pernah juga aku tersesat hingga 4 tahun lamanya hingga sekarang aku kembali ke halaman rumahku dan aku menemukan jalan lain.
Aku sudah memulai perjalanan baruku,  aku berjalan kearah barat aku mengikuti kemana matahari pergi karena sesungguhnya aku takut akan kegelapan. Sungguh aku takut padanya karena aku akan lebih merasa jika aku sendiri. Kadang saat aku benar-benar gundah, aku mencoba untuk keluar dari kehidupan normalku. Aku mengemasi semua barangku dalam ranselku, aku gendong ranselku, dan aku membawanya ketempat-tempat yang tinggi. Kemudian di tempatku aku melihat jauh kebawah, aku mencari ditempat mana aku biasa hidup normal, tak sedikitpun pengelihatan yang aku dapatkan dari tempat itu.
Di setiap puncak sungguh aku merasa kecil, aku tak ada apa-apany di bandingkan tanah dan batu-batu yang telah aku injaki sebagai tumpuan. Namun disaat itu jugalah aku dapat benar-benar menarik kedua sudut bibirku ke atas. Aku merasakan kesenangan yang luar biasa, seolah aku merasa sebagai burung yang benar-benar baru saja terlepas dari sarangnya bebas, senang, dan lupa akan semua masalah yang pernah dialaminya. Ditemoat itu aku benar-benar merasakan hal yang berbeda aku tak pernah lagi menemui resahku ketika aku ada disana.

Terkadang aku merasa bahwa itulah hidupku, dan seperti itulah aku seharusnya tapi raealita tak pernah berkata seperti itu, aku yang sebenarnya adalah aku yang sekarang ini menulis isi hati ini dengan jari-jari kasarku yang belum pernah menciptakan suatu karya pun di sepanjang hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar