Kacamata SofyanRian

Semua aku ungkapkan dari caraku memandang. Tak peduli orang memandang lain, aku akan tetap memandang dari sudut dimana seharusnya aku memandang karena setiap kacamata memiliki sudut pandang tersendiri.

Senin, 10 Agustus 2015

Inspirasi Mendaki Karena Sebuah Tontonan

Heran akhir-akhir ini emang lagi ngetrend banget nai gunung, tak sedikit temen yang nanya "Yan, kapan naik? Kalau naik ajakin dong". "Yan kalau mau ke gunung A atau B lewatnya mana". "Yan bisa pinjem alat nggak?" "Persewaan dimana". Bukan disitu masalah yang sebenarnya ingin saya bahas, bukan maslah temen yang nanya ini itu, tapi saya ingin membahas naik gunung yang mendadak jadi trend itu tadi.

Ya di bandingkan waktu saya masih SMA, jumlah pendaki gunung memang jauh bertambah banyak. Kalau saya pikir pakai teori sih ini seharusnya menjadi hal yang bagus, karena makin banyak orang yang mencintai alam kita ini. Mungkin semua orang juga akan berfikir demikian, karena awalnya dulu nggak ada pendaki gunung selain karena 2 hal "mencintai alam atau mau cari kekuatan kalau orang jaman dulu bilang" Yah tapi kenyataan emang nggak mesti selaras dengan teori dan logika, bertambahnya jumlah pendaki ternyata bukanlah menambah gunung-gunung itu terlihat lebih cantik karena makin banyak yang mencintainya, tapi justru muka si Gunung jadi penuh jerawat dan kotoran. Saya begitu heran kenapa bisa demikian, sampai akhirnya saya sadar di ligkungan ini (Indonesia) banyak sekali orang-orang yang latah akan hal-hal yang mendadak dianggap keren.

Hmm namanya juga latah, palingan juga jadinya obor blarak kalau orang jawa bilang. Kalau sudah latah gini pasti apapun akan dilakukan tanpa pemikiran yang lebih matang terdahulu, dengan kata lain cuma modal dengkul dan nekat aja mereka berangkat. Nekat disini bukan nekat karena keterbatasan fisik atau alat, melainkan nekat dalam "pikiran". Banyak orang-orang yang naik gunung tapi berpikiran seperti dateng ke mall dan belanja ria atau mungkin tamasya ke taman satwa bersama keluarga. Dengan pikiran yang cetek seperti itu mungkin mereka menganggap pedakian itu bener-bener semudah belanja di mall. Iya kalau mendakinya memang tidak susah semua orang bisa mendaki asalkan dia mau. Tapi masalahnya adalah tangan-tangan "mall" mereka  yang usil bin kurang ajar dan dengan sengaja merusak keindahan gunung itu sendiri.

Di awal mereka berangkat mereka benar-benar berdandan bak artis mau main film daiatas gunung, mereka membawa banyak bekal bak mau piknik, benar-benar rempong. Sebenarnya bukan masalah juga mau dandan gimana dan mau bawa apa saat jalan  ke  Gunung, yang jadi masalah adalah ketika selesai memakai barang bawaan itu mau nggak bawa pulang sisa-sianya? Faktanya masoh banyak yang ninggalin sampah-sampahnya di semua tempat dan tak beraturan, dipikirnya ini TPA, jadi bisa bebas buang se enaknya? Sering kali saya melihat si kurang ajar yang juga menamakan dirinya sebagai pendaki ini membuang botol bekas minuman, plastik kemasan mie instant, plastik permen, rokok sama bungkusnya, bahkan sisa-sisa makanan mereka di tinggalkan begitu saja. Ditambah lagi kadang tangan-tangan penus dosa itu mencuri tumbuhan-tumbuhan langka seperti eidelweis hanya karena alasan ingin diberikan ke pasangnya sebagai lambang cintai abadi. Ah setan, mau sebanyak apapun mereka nyolong itu bunga juga nggak bakal ngaruh.

Ini benar-benar kisah yang saya alami sendiri, berkali-kali saya melihat hal yang demikian, saya melihat orang meninggalkan sampah disetiap gunung, saya melihat pencuri eidelweis di Gunung Prau dan Sindoro, Saya melihat pohon eidelweis di tebang untuk dijadikan tongkat di Lawu dan Merbabu, dan saya melihat tumpukan sisa-sisa bekal di Gunung Sumbing, bahkan dari tumpukan sampah sisa makanan itu teman saya sampai menemukan makanan kalengan utuh dan masih baru, kemungkinan rombongan tak berpendidikan itu meninggalkanya untuk mengurangi beban waktu turun. Belum lagi kadang saya juga melihat anak-anak alay SMA membuat pesawat-pesawatan dari kertas tulisan yang mereka bawa dari bawah kemudian mereka melemparnya ke kawah Merapi dengan sangat bangga karena yakin harapan yang mereka tulis akan terwujud. Setan bodoh mana yang akan mengabulkan harapan mereka, saya kira tidak ada.

Masih lagi ada juga tega mengecat batu-batu indah dengan nama dan juga harapan bodoh mereka itu tadi, gara-gara ulah itu batu yang semula warnanya hitam pun malah jadi kayak Zebra. Ah bener-bener vandalisme karena sebuah tontonan yang jadi panutan. Ada juga yang lebih bodoh dan benar-benar bodoh mereka naik gunung bukanya bawa ransel berisi bekal tapi justru sibuk bawa gitar lalu dimainkan, yang tanpa mereka sadari itu bisa mengganggu satwa juga.

Ah sudahlah, bagi temen-temen yang nyempetin baca unek-unek ini. Janganlah kalian hanya berpikir sepanjang beberapa sentimeter seperti tayangan yang menginspirasi kalian untuk naik gunung. Jika kalian mendaki bukan sebagai pencinta alam, setidaknya mendakilah sebagai penikmat alam, dan jangan pernah mendaki sebagai perusak alam.

"Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak, Jangan Ambil Apapun Kecuali Gambar dan Jangan Membunuh Apapun Kecuali Waktu."

Minggu, 09 Agustus 2015

Terombang - Ambing menuju Puncak Sumbing - (Pendakian) Gunung Sumbing via Garung

Gunung Sumbing Via Garung, View Gunung Sindoro

Gunung Sumbing – Gunung Sumbing merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 3371 MDPL yang secara administratif terletak di Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Wonosobo, Temanggung dan Magelang. Gunung yang bertipe strato ini terkenal akan keganasan track nya yang dari awal hingga puncak sama sekali tidak ada jalan datarnya (full menanjak).
Gunung Sumbing memiliki empat jalur pendakian dan yang paling terkenal serta sering dilalui oleh pendaki adalah Jalur Garung, Jalur Garung sendiri terbagi atas dua jalur yaitu Jalur Lama dan Jalur Baru. Pada kesempatan ini (2 Januari 2015) saya dan 3 orang rekan tim saya (Bram, Boby YP, dan Ryan N) melakukan pendakian melalui Jalur Lama.
Perjalanan dimulai dari Solo Pukul 08.00 WIB kami berangkat menggunakan sepeda motor dengan rute Salatiga – Ambarawa – Temanggung – Base Camp Garung Gunung Sumbing. Perjalanan dari Solo ke Basecamp Garung melalui rute ini memerlukan waktu kurang lebih 4 Jam. Namun karena saat itu hari Jum’at dan kami harus melaksanakan Sholat Jum’at terlebih dahulu di tengah perjalanan. Kami baru sampai Basecamp Garung sekitar pukul 13.00 WIB.
Basecamp Sumbing (berangkat muka masih pucat)

Sesampainya di Basecamp Garung, kami istirahat sebentar dan berencana memulai pendakian Pukul 15.00 WIB. Namun waktu itu mendadak saya malah sakit karena kelelahan dalam perjalanan (pusing, mual, dan kedinginan). Jadi kami terpaksa menunda keberangkatan, hingga akhirnya setelah beberapa jam saya tidur badan saya kembali terasa segar dan Pendakian dimulai Pukul 17.30.

BASECAMP – POS I
Dari basecamp kami mendapatkan tumpangan mobil pickup warga sampai kampung atas, sampainya kampung atas kami memulai trekking bersama rombongan warga setempat. Tak lama berjalan bersama mereka hujan mulai datang mengguyur kami, sehingga memaksa kami harus berganti kostum menggunakan Jas Hujan. Sialnya adalah waktu itu tidak ada geiter dalam daftar barang bawaan kami jadi tidak ada satu pun anggota tim yang membawa geiter. Akhirnya kami semua memutuskan trekking menggunakan sandal gunung karena jika memakai sepatu trekking waterproof dalam keadaan hujan tanpa geiter sama saja  artinya kita membuat kolam air di sepatu kita.
Sepanjang perjalanan dari Basecamp – Pos I didominasi oleh jalan setapak berbatu (macadam / jalan batu yang tersusun rapi) yang terus menanjak dan berkelok-kelok tidak ada habisnya. Hujan yang lebat disertai kabut dan badai membuat langkah kami semakin berat apalagi waktu itu keadaan saya belum begitu fit. Sebenarnya dari Basecamp – Pos I ini juga bisa dilalui dengan Ojek warga dengan tarif Rp. 30.000,- saja. Menurut mereka (tukang ojek) dengan menggunakan jasanya kita bisa sampai di POS I dalam 15 menit atau dengan kata lain bisa hemat waktu 2 jam. Namun kurang afdol rasanya kalau baru berangkat saja sudah manja. Rombongan kami tiba di Pos I pukul 19.30 WIB.
Nebeng Pick Up

Di Pos I kami berhenti untuk istirahat, makan dan menunaikan sholat. Terdapat warung tidak permanen milik warga di sebelah shelter Pos I ini. Di warung tersebut kami membeli gorengan tempe khas wonosobo yang sangat nikmat saat dimakan menemani teh panas manis yang juga kami beli dari warung tersebut. Kocaknya disaat saya, boby, dan bram menghabiskan beribu-ribu rupiah di warung ini si Ryan hanya mengeluarkan nol rupiah saja, hebatnya kekenyangan yang dia dapat justru melebihi kami (minta dengan muka melas). Tentunya hal itu sangat memalukan bagi teman-temanya. Tapi ya bagaimana lagi, ya seperti itulah Ryan teman kami. Yang namanya teman ya harus dapat memahami, memaklumi, dan menghargai bagaimana kekurangan dan kelebihan sahabatnya, jadi bagaimanapun sifatnya, dia tetap teman saya yang harus saya gandeng menuju puncak bersama-sama.

POS I – POS II
Kami kembali melanjutkan perjalanan dari Pos I Pukul 21:00 WIB,  jalur dari Pos I menuju Pos II berupa tanah padat yang juga terus menanjak, tanjakan disini masih tergolong manusiawi, namun guyuran air hujan membuat langkah kaki kami lebih sulit karena tanah menjadi agak licin. Banyak sekali percabangan di jalur ini yang akhirnya menjadi satu.
Kami tiba di Pos II sekitar pukul 22.50 WIB, oleh penduduk setempat Pos II ini dinamai Genus. Di Pos II terdapat tanah yang lumayan lapang dan dapat digunakan untuk mendirikan 2-3 tenda ukuran sedang. Kami hanya berhenti sebentar untuk minum di Pos ini, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.

POS II – POS III
Break POS II -POS III
Trek semakin menggila setelah dari Pos II, kemiringan dan licinya tanah akibat hujan disertai angin membuat perjalanan semakin sulit. Berkali-kali kami terpeleset secara bergantian. Suara angin yang mengerikan dari atas semakin menyiutkan niat kami untuk sampai puncak.
Berkali-kali semangat kami tumbang di jalur menuju Pos III ini, secara bergantian kami terus menyemangati satu sama lain agar kembali bangkit dan kembali melanjutkan perjalanan. Tak jarang kaki-kaki kami digunakan sebagai pijakan rekan di depan kami agar dapat naik dan tidak terpeleset.
Sulitnya medan membuat perjalanan kami 2 kali lebih lama. Kami baru tiba di Pos III Pukul 01.00 dini hari, padahal normalnya di musim kemarau tanpa hujan pendaki lain dalam tulisan-tulisanya hanya membutuhkan waktu 1 jam dari Pos II – Pos III ini.  Pos III (Seduplak Roto) sendiri merupakan tanah yang lumayan lapang dan rata serta mampu menampung sekitar 6 Tenda.

POS III – Pestan
Di Pos III kami istirahat cukup lama dan kembali melanjutkan perjalanan Pukul  01.30. Trek yang dilalui masih tidak jauh berbeda dengan trek yang sebelumnya kondisi  vegetasi yang mulai menipis membuat angin semakin leluasa mengombang-ambingkan kami. Angin yang kencang disertai rintikan air hujan membuat suhu semakin turun entah menjadi berapa derajat waktu itu.
Dinginya malam pun semakin leluasa menembus jaket yang saya kenakan. Kami semakin kelelahan dan benar-benar patah semanggat dengan keadaan seperti itu. Kami akhirnya memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda, tetapi tidak ada satupun tempat datar yang kami temui. Sampai akhirnya kami menemukan tempat yang kami anggap layak untuk mendirikan tenda walaupun masih tetap miring.
Ditempat itu sudah berdiri 2 tenda lain rombongan dari Jakarta, dari dalam tenda salah satu dari mereka mengatakan bahwa sudah terjebak ditempat itu selama 1 Minggu karena badai, mereka belum mencapai puncak dan mengatakan akan turun besok pagi kalau cuaca tidak badai lagi. Saat mendirikan tenda kami sangat kuwalahan melawan angin yang begitu kencang dan meniup tenda kami kesana kemari, apalagi waktu itu Bram sudah benar-benar drop karena kedinginan dan kelelahan. Otak yang beku dan tubuh yang sangat lelah memicu emosi dan rasa ego kami, saling membentak dan menyalahkan tidak bisa terelakan lagi.
Pestan

Dengan keadaan seperti itu tenda baru bisa didirikan setelah 45 menit, itupun kita masih harus membersihkan air yang masuk ke dalam tenda. Saat sudah memasuki tenda pikiran kami sedikit kembali lebih jernih, emosi mulai mereda, kami kemudian makan nasi bekal dari rumah bersama dengan mie instan hangat sebagai lauk dan kemudian tidur setelah sholat subuh.
Kami melanjutkan perjalanan pukul 08.00 dan kembali lagi-lagi Ryan mulai berulah dengan berbagai alasan dia minta jas hujan pada rombongan sebelah karena jas hujan yang iya kenakan semalam sudah tidak jelas lagi bentuknya. Sepuluh menit dari camp kami, kami sudah sampai di Pestan.

Pestan – Pasar Watu
Di Pestan entah setan apa yang merasuki Ryan dan Boby mereka tanpa sadar mengais-ais sampah yang ditinggalkan pendaki lain yang kurang bertanggung jawab sebelum kami. AJAIB!!! Mereka berdua menemukan 1 kaleng sarden utuh yang masih belum terbuka dan masih jauh dari batas kadaluarsa. Kami pun membawa sarden itu dan segera melanjutkan perjalanan karena kabut dan gerimis kembali datang.
Pasar Watu

Dari pestan trek berubah total, tanjakan semakin menggila dan banyak sekali batu-batu besar yang harus kami lewati sehingga tenaga kami banyak terkuras di jalur ini. Namun demikian jalur menuju Pasar Watu masih dapat dilihat dengan sangat jelas dan terdapat banyak petunjuk arah menuju puncak. Kami tiba di pasar watu pukul 09.00 WIB. Ada sedikit tempat untuk mendirikan camp disini.

Pasar Watu – Watu Kotak
Dari pasar watu kami kembali meneruskan perjalanan menuju Watu Kotak, jalur penyiksaan tidak hanya selesai di Pasar Watu saja. Jalur menuju Watu Kotak semakin tidak manusiawi, tanjakan-tanjakan yang semakin terjal dan ukuran batu yang besar membuat kami berkali-kali mencium lutut sendiri.
Watu Kotak

Kami tiba di watu kotak pukul 09.50. Disini Bram kembali tumbang, dia meminta untuk  “break”. Kami memanfaatkan waktu ini untuk istirahat dan membuat sarapan. Perjalanan kembali dilanjutkan pukul 10.15 WIB, tanpa sadar air minum kami tertinggal 1 botol di Watu Kotak.

Watu Kotak -  Puncak
Dari watu kotak kami masih juga disiksa oleh bebatuan dan tanjakan yang tak kenal kata ampun, di jalur ini gantian Ryan yang tumbang dia tiba-tiba saja berhenti dan tidur ditepi jalur selama 10 menit kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Kami tiba di Puncak Buntu pukul 11.40.
Puncak Buntu (Saya)
Puncak Kawah (Saya, Bram, Ryan, Boby)
Sampai di puncak saya, Boby dan Ryan segera mengekspresikan kebahagian kami dengan mengabadikan momen (berfoto ria). Senyum dan tawa ekspresi kebahagian terganbar jelas di raut muka kami, apalagi sesampainya dipuncak cuaca menjadi agak cerah. Kabut sudah tidak setebal sebelumnya jadi view semakin terlihat indah, namun Bram memilih untuk istirahat dan tidur terlebih dahulu. Setelah bram bangun kami berpindah dari Puncak Buntu ke Puncak Kawah yang lebih tinggi, disana kami bertemu dengan rombongan pendaki lain waktu itu di puncak hanya ada 2 rombongan saja.
Pukul 12.30 Kami kembali turun, kami berhenti sebentar di camp untuk istirahat dan packing. Kemudian kami sampai di POS I Pukul 16.30. Lutut yang sudah menjerit-jerit ditambah badan yang mulai panas-dingin akhirnya memaksa kami untuk turun ke basecamp menggunakan ojek. Ada keseruan tersendiri saat turun menggunakan ojek ini, adrenalin dipacu seolah kita sedang membonceng sepeda downhill dari puncak untuk turun gunung.




DIBUANG SAYANG
Melihat Sindoro
Sedikit Bonus Setelah Pasar Watu 
Flora 1

Flora 2

Nanjak Terus ke Watu Kotak

Kabut Kembali Datang

Break

Sinyal di Watu Kotak

Mie Instant

Ryan Tepar

Habis Tepar (P.Buntu)

Bersama Rombongan Lain

Siap-Siap Turun
Peta Sumbing Via Garung

Sabtu, 08 Agustus 2015

Surga di Bawah Puncak Lawu - (Pendakian) Lawu Via Candi Cetho

Gupakan Menjangan - Lawu Via Cetho

Sabtu-Minggu, 28 - 29 Maret 2015

Gunung Lawu – Lawu merupakan salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung dengan ketinggian 3265MDPL ini memiliki 5 Jalur Pendakian resmi yaitu jalur Cemoro Sewu (Magetan, Jawa Timur), Cemoro Kandang (Karanganyar, Jawa Tengah), Candi Cetho (Karanganyar), Taman Hutan Raya (Karanganyar), dan Jalur Jogorogo (Ngawi, Jawa Timur). Dari sekian banyak jalur pendakian tersebut, Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang lah Jalur yang paling terkenal, hal ini dikarenakan kedua jalur tersebut merupakan jalur yang relatif lebih mudah, aman dan cepat dibandingkan dengan ketiga jalur lainya. Padahal ketiga jalur yang lain ini justru menawarkan pengalaman yang luar biasa bagi penggiat alam bebas. Keindahan alam yang ada di ketiga jalur tersebut sungguh tak ada duanya.
Dalam perjalanan kali ini Tim kami terdiri dari 5 orang, yaitu Saya (Rian Sofyan), Ibrahim Adam (Bram), Boby Yoga, Rizal Adburahman, dan Eko Abdullah. Kali ini kami memilih melewati Jalur Candi Cetho karena mengingginkan suasana yang lain. Perjalanan dimulai dari rumah saya pukul 21.00 WIB, setelah semua selesai makan malam bersama kami segera menuju Candi Cetho menggunakan sepeda motor. Sebenarnya di jalur ini sangat tidak disarankan untuk melakukan perjalanan di malam hari, namun karena padatnya acara masing-masing anggota tim di siang harinya dengan sangat terpaksa kami nekat melakukan perjalanan di malam hari.
Dalam perjalanan menuju Candi Cetho kami mengalami sedikit masalah. Ban motor Rizal bocor ditenggah perjalanan tanpa disadari dia tertinggal jauh dibelakang, sedangkan saya, Boby dan Bram sudah hampir sampai di Candi Cetho. Akhirnya kami bertiga turun kebawah menghampiri Rizal dan Eko yang waktu itu sedang menunggu ban motor mereka ditambal. Selesainya acara dadakan nambal ban, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju candi cetho.
Pukul 23.30 kami sampai di pintu masuk Candi Cetho, tidak ada satupun orang disana, rumah-rumah warga sudah nampak begitu sepi. Kami kebinggungan bagaimana caranya bisa registrasi, sampai akhirnya saya nekat menggedor pintu rumah warga setempat. Akhirnya Pemilik rumah itu keluar, alhamdulillah dia tidak marah justru malah sangat ramah, kami  menitipkan kertas berisi nama-nama anggota Tim dan motor kami ke Bapak tersebut dan segera bergegas mengawali pendakian.

START PENDAKIAN
Pintu Masuk Candi Cetho
Pendakian dimulai pukul 00.30 Tepat, perjalanan diawali dengan melewati kompleks Candi Cetho yang terlihat begitu angker di malam hari, seperti biasa Bram bertugas menjadi leader dan saya diposisi paling belakang sebagai sweeper. Jalur yang kami lewati cukup datar sehingga tempo langkah kaki bisa sedikit lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan kami hanya melihat hutan gelap tanpa seorang pun didalamnya. Bulatnya bulan purnama diselimuti kabut tipis dan banyaknya mitos yang beredar tentang jalur ini membuat suasana perjalanan semakin angker.
Tidak ada yang bisa diceritakan di hari itu selain seramnya malam. Pos I kita lewati begitu saja tanpa sadar, tiba-tiba sekitar pukul 02.30 kita sudah menemui Pos II dengan 2 tenda berdiri disana. Sedikit rasa lega keluar dihati saya karena merasa kami tidak sendirian malam itu. Kami Memutuskan untuk tidak berhenti di Pos II dan melanjutkan perjalanan.
Awalnya kami berencana mendirikan tenda di Pos III (Cemoro Dowo), batas maksimal tubuh memang sudah tidak bisa ditawar lagi setengah jam berjalan dari Pos II kami sudah terasa ngantuk terutama Boby yang tidak terbiasa tidur malam, berbagai keluhan mengantuk sudah dilontarkan sejak dari Pos II tadi, akhirnya kami menemukan tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Tempat yang sangat datar dan hangat karena dikelilingi semak-semak. Ada sedikit masalah disini, kami hanya membawa 1 tenda yang berkapasitas 3-4 orang (ukuran indo). Karena pada awalnya Rizal memang tidak berniat untuk ikut, hingga akhirnya mendadak suasana hati mendorongnya untuk ikut dalam perjalanan ini. Kemudian tenda kecil yang kami bawa itu dipaksa dijejali 5 orang. Seusai mendirikan tenda dan makan nasi + mie instant, kami akhirnya tidur dengan posisi Boby tidur dibawah kaki 4 anggota tim yang lain.

KEMAH DI DEKAT MAYAT
Bangun Tidur Tanpa Sadar Bersebelahan dengan Mayat
Pagi hari sudah tiba sinar matahari yang tembus melewati celah-celah semak membangunkan kami berempat kecuali Bram. Kami segera bergegas keluar tenda untuk masak sarapan pagi. Ada sedikit hal yang ganjal terjadi saat itu. Banyak sekali lalat di sekitar tenda kami disertai bau tidak sedap semacam ada bangkai. Pikir kami saat itu mungkin ada bangkai binatang disekitar camp kami. Alangkah kagetnya diri kami ketika kejanggalan itu terjawab seminggu tepat setelah kami turun. Ditemukan mayat seorang petapa didekat tempat kami mendirikan kemah.

Waktu menunjukan Pukul 09.00, rombongan yang semalam berkemah di Pos II sudah menyusul kami. Kami masih sedikit bersantai-santai sambil berusaha membanggunkan Bram. Sampai akhirnya Pukul 10.00 Kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalur masih lumayan datar dengan dihiasai sedikit tanjakan-tanjakan kecil. Pepohonan yang tumbuh disekitar jalur membuat perjalanan terasa sangat sejuk dan memanjakan kami. Kamu berjalan dengan sangat santai sambil menikmati hutan yang masih sangat perawan ini. Satu jam kami berjalan sampailah kami di Pos III, terdapat shelter kecil disini, kami berhenti sebentar untuk istirahat minum. Dari pos III kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos IV. Jalur menuju Pos IV ini masih sama dengan sebelumnya.

PERJALANAN MENUJU BULAK PAPERANGAN (MEDAN PASUKAN PERANG BRAWIJAYA V MAJAPAHIT VS PASUKAN RADEN PATAH KERAJAAN DEMAK)
Bulak Paperangan (POS V)
Kami memutuskan tidak istirahat di Pos IV. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Ondo Rante, tempat ini dijuluki Ondo Rante karena berupa bukit dengan jalan yang berkelok-kelok, saat itu kabut tebal kembali datang. Suasana mendadak berubah, kami seperti berada di alam lain seperti dalam film “Silent Hill”. Kami berhenti sebentar di tempat ini untuk mengabadikan momen menyenangkan ini, hingga kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pos V.

Pukul 14.15 Kami sampai di Pos V, Pos ini berupa hamparan Sabana yang sangat luas yang di namakan Bulak Paperangan, konon katanya disinilah medan perang antara Pasukan Prabu Brawijaya V melawan Pasukan Raden Patah yang mengejarnya hingga Puncak Lawu, saat itu yang terpikirkan di pikiran kami adalah “Buset ini orang-orang udah susah-suah naik gunung, mana jaman itu pasti jalurnya belum ada. Cuma buat perang?” SANGAR!!!. Bulak paperangan ini juga merupakan jalur pertemuan antara jalur Candi Cetho dan jalur Jogorogo. Kami menghabiskan banyak waktu untuk berfoto-foto dan istirahat ditempat ini.
Jalan Menuju Gupakan Menjangan
Jalan Menuju Gupakan Menjangan 2



DILANDA HUJAN DI GUPAKAN MENJANGAN
Gupakan Menjangan
Pukul 15.00 kami kembali melanjutkan perjalanan, dari Pos V kita harus mengambil arah kanan menuju jalan datar yang diapit 2 bukit kecil dan terdapat kayu tumbang menutupi tengah jalur. Jangan mengambil jalur lurus dari persimpangan ink karena jika lurus kita akan masuk jalur menuju Jogorogo. Satu jam berjalan kami kembali menemui sabana luas yang tidak ada habisnya disini terdapat bekas rawa-rawa yang masih terlihat jelas “Subhanallah” hanya kata itu yang dapat mewakili indahnya tempat ini, air mata ingin menetes rasanya ketika melihat begitu megah ciptaanya yang pada hari itu tidak ada satu orang pun yang melewati tempat ini kecuali kami berlima dan rombongan yang menyalip kami di kemah tadi pagi. Kami berencana berhenti sebentar untuk makan siang dan melaksanakan Sholat. Boby dengan Eko sholat duluan sedangkan yang lain bertugas memasak nasi dan sate koyor sebagai lauknya.
Saat kami sedang asik-asiknya masak tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, keadaan diperburuk ketika Bram dan Eko lupa membawa Jas Hujan, dengan sangat terpaksa kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di hutan kecil yang merupakan Jalur menuju Sendang Macan,  pupus sudah harapan untuk menginap di warung Mbok Yem sembari menikmati pecel khas Puncak Lawu buatanya. Hujan deras mengguyur kami saat mendirikan tenda. Badan saya jadi basah kuyup sampai kedinginan dan gemetar. Terpal alas tenda berubah menjadi bak penampungan air, kami harus mengeringkan alas tenda dengan kaos yang kami kenakan. Sekitar pukul 18.00 tenda selesai berdiri, kami segera masuk kemudian menjamak sholat Maghrib dengan Isya didalam tenda. Setelah sholat kami bergegas tidur. Kali ini Boby kapok tidur dibawah kaki rekanya. Kami akhirnya tidur dengan posisi sejajar. Dengab posisi seperti itu tentunya tenda terasa sangat sempit sehingga susah sekali untuk menggerakan badan. Saya tidak bisa tidur nyeyak semalaman.
KEHABISAN AIR MINUM, MINUM KUBANGAN AIR HUJAN
Kehabisan Air Minum
Pukul 03.00 pagi saya bangun dan melihat keluar tenda, diluar cuaca masih sangat buruk. Hujan badai berkabut masih menjadi momok hingga subuh. Pukul 6 pagi saya baru berani keluar tenda untuk menjemur pakaian dan barang-barang yang basah tadi malam. Saya baru tersadar kalau air tinggal ¾ botol saja, kami kebingungan dengan masalah air ini. Di sekitar camp kami memang terdapat petunjuk menuju sendang macan, saya boby dan eko mencoba menelusuri petunjuk tersebut namun nampaknya sangat jauh, kemungkinan jaraknya sama dengan jarak kepuncak. Dengan pertimbangan itu dan takut bertemu macan Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan mencari sendang macan dan kembali ke tenda, diperjalanan menuju ke tenda saya melihat se ekor kijang yang sedang sibuk mencari makan.
Pukul setengah 9 pagi kami kembali melanjutkan perjalanan, tempo perjalanan semakin diperlambat karena persedian air tinggal sedikit sekali, cuaca yang panas dan jalan yang semakin menanjak membuat kami merasa sangat haus. Sampai akhirnya kami menemukan kubangan air yang terisi penuh dengan air hujan tadi malam. Kami mengambil air itu dan menampungnya dalam botol kami. Sebagian kami minum langsung tanpa dimasak, air itu benar-benar terasa segar sekali ketika memasuki tenggorokan kami yang sudah mengering. Usai mengambil air kami kembali melanjutkan perjalanan

MENUJU PASAR SETAN DAN PUNCAK LAWU
Pasar Dieng
Pukul 10.00 pagi kami sampai di Pasar Dieng (batu) atau sering disebut juga dengan Pasar Setan karena menurut mitos setiap malam tertentu sering terdengar suara gamelan dan suara seperti orang-orang dipasar. Namun selama perjalanan kami tidak dapat membuktikan mitos tersebut. Dari Pasar Dieng ini jalanan semakin menanjak dan sangat melelahkan apalagi saat itu Kerir masih menggantung membebani punggung kami
Pukul 10:58 akhirnya sampai dipuncak Gunung Lawu, memang sebagaian dari kami sudah beberapa kali mencapai puncak ini tapi tetap saja ada kegembiraan tersendiri ketika dapat mencapai klimaks pada suatu perjalanan yang lain. Di puncak inilah akhirnya kami merasa kembali ke peradaban karena dipuncak kami bertemu dengan banyak rombongan pendaki lain. Setelah beristirahat sejenak di bawah tugu puncak, kami memasak sisa logistik yang ada. Sembari makan kami rembugan bersama mau pulang lewat mana? Dengan berbagai pertimbangan kami memutuskan memilih turun lewat jalur Cemoro Sewu. Seusai makan kami langsung turun menuju Sendang Derajat. Di  Sendang derajat kami kembali mengisi air, kemudian langsung turun ke Pos V.
Puncak Lawu

TURUN TERCEPAT, SENDANG DERAJAT – CEMORO SEWU (90 Menit)

Sampainya di Pos V saya iseng-iseng bicara dengan Boby “Bob kok mau bapake sik dodolan nang sendang derajat ngomong iso ya mudun lawu mung siji setengah jam. / Bob kok tadi bapaknya bilang bisa ya turun gunung lawu Cuma satu setengah jam?”. “iyoi mas, aku yora percoyo. / Iya mas, aku kok gak percaya”. “coba wae piye? / lha dicoba aja gimana?”. “ayo to, mlayu terus ya teko ngisor?, ayo, lari terus ya sampai bawah.” Setelah selesai melakukan obrolan itu saya dengan Boby pun segera lari turun kebawah, bram, rizal dan eko mengikuti dari belakang. Saya dan Boby terus berlari tanpa berhenti di Pos – Pos yang ada. Alhasil taraaaat, kami sampai di Base Camp pendakian Cemoro sewu dalam waktu 1 Jam 36 Menit dengan sehat dan selamat. Kemudian Rizal, Bram, dan Eko menyusul kami satu setengah jam di belakang.




















DIBUANG SAYANG
Tanaman 1
Tanaman 2
               Ondo Rante 3
Ondo Rante 2
Bulak Paperangan 1
Bulak Paperangan 
                             Sholat
Sendang Derajat


Selfie

Sendang Derajat
Sampai Cemoro Sewu