Heran akhir-akhir ini emang lagi ngetrend banget nai gunung, tak sedikit temen yang nanya "Yan, kapan naik? Kalau naik ajakin dong". "Yan kalau mau ke gunung A atau B lewatnya mana". "Yan bisa pinjem alat nggak?" "Persewaan dimana". Bukan disitu masalah yang sebenarnya ingin saya bahas, bukan maslah temen yang nanya ini itu, tapi saya ingin membahas naik gunung yang mendadak jadi trend itu tadi.
Ya di bandingkan waktu saya masih SMA, jumlah pendaki gunung memang jauh bertambah banyak. Kalau saya pikir pakai teori sih ini seharusnya menjadi hal yang bagus, karena makin banyak orang yang mencintai alam kita ini. Mungkin semua orang juga akan berfikir demikian, karena awalnya dulu nggak ada pendaki gunung selain karena 2 hal "mencintai alam atau mau cari kekuatan kalau orang jaman dulu bilang" Yah tapi kenyataan emang nggak mesti selaras dengan teori dan logika, bertambahnya jumlah pendaki ternyata bukanlah menambah gunung-gunung itu terlihat lebih cantik karena makin banyak yang mencintainya, tapi justru muka si Gunung jadi penuh jerawat dan kotoran. Saya begitu heran kenapa bisa demikian, sampai akhirnya saya sadar di ligkungan ini (Indonesia) banyak sekali orang-orang yang latah akan hal-hal yang mendadak dianggap keren.
Hmm namanya juga latah, palingan juga jadinya obor blarak kalau orang jawa bilang. Kalau sudah latah gini pasti apapun akan dilakukan tanpa pemikiran yang lebih matang terdahulu, dengan kata lain cuma modal dengkul dan nekat aja mereka berangkat. Nekat disini bukan nekat karena keterbatasan fisik atau alat, melainkan nekat dalam "pikiran". Banyak orang-orang yang naik gunung tapi berpikiran seperti dateng ke mall dan belanja ria atau mungkin tamasya ke taman satwa bersama keluarga. Dengan pikiran yang cetek seperti itu mungkin mereka menganggap pedakian itu bener-bener semudah belanja di mall. Iya kalau mendakinya memang tidak susah semua orang bisa mendaki asalkan dia mau. Tapi masalahnya adalah tangan-tangan "mall" mereka yang usil bin kurang ajar dan dengan sengaja merusak keindahan gunung itu sendiri.
Di awal mereka berangkat mereka benar-benar berdandan bak artis mau main film daiatas gunung, mereka membawa banyak bekal bak mau piknik, benar-benar rempong. Sebenarnya bukan masalah juga mau dandan gimana dan mau bawa apa saat jalan ke Gunung, yang jadi masalah adalah ketika selesai memakai barang bawaan itu mau nggak bawa pulang sisa-sianya? Faktanya masoh banyak yang ninggalin sampah-sampahnya di semua tempat dan tak beraturan, dipikirnya ini TPA, jadi bisa bebas buang se enaknya? Sering kali saya melihat si kurang ajar yang juga menamakan dirinya sebagai pendaki ini membuang botol bekas minuman, plastik kemasan mie instant, plastik permen, rokok sama bungkusnya, bahkan sisa-sisa makanan mereka di tinggalkan begitu saja. Ditambah lagi kadang tangan-tangan penus dosa itu mencuri tumbuhan-tumbuhan langka seperti eidelweis hanya karena alasan ingin diberikan ke pasangnya sebagai lambang cintai abadi. Ah setan, mau sebanyak apapun mereka nyolong itu bunga juga nggak bakal ngaruh.
Ini benar-benar kisah yang saya alami sendiri, berkali-kali saya melihat hal yang demikian, saya melihat orang meninggalkan sampah disetiap gunung, saya melihat pencuri eidelweis di Gunung Prau dan Sindoro, Saya melihat pohon eidelweis di tebang untuk dijadikan tongkat di Lawu dan Merbabu, dan saya melihat tumpukan sisa-sisa bekal di Gunung Sumbing, bahkan dari tumpukan sampah sisa makanan itu teman saya sampai menemukan makanan kalengan utuh dan masih baru, kemungkinan rombongan tak berpendidikan itu meninggalkanya untuk mengurangi beban waktu turun. Belum lagi kadang saya juga melihat anak-anak alay SMA membuat pesawat-pesawatan dari kertas tulisan yang mereka bawa dari bawah kemudian mereka melemparnya ke kawah Merapi dengan sangat bangga karena yakin harapan yang mereka tulis akan terwujud. Setan bodoh mana yang akan mengabulkan harapan mereka, saya kira tidak ada.
Masih lagi ada juga tega mengecat batu-batu indah dengan nama dan juga harapan bodoh mereka itu tadi, gara-gara ulah itu batu yang semula warnanya hitam pun malah jadi kayak Zebra. Ah bener-bener vandalisme karena sebuah tontonan yang jadi panutan. Ada juga yang lebih bodoh dan benar-benar bodoh mereka naik gunung bukanya bawa ransel berisi bekal tapi justru sibuk bawa gitar lalu dimainkan, yang tanpa mereka sadari itu bisa mengganggu satwa juga.
Ah sudahlah, bagi temen-temen yang nyempetin baca unek-unek ini. Janganlah kalian hanya berpikir sepanjang beberapa sentimeter seperti tayangan yang menginspirasi kalian untuk naik gunung. Jika kalian mendaki bukan sebagai pencinta alam, setidaknya mendakilah sebagai penikmat alam, dan jangan pernah mendaki sebagai perusak alam.
"Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak, Jangan Ambil Apapun Kecuali Gambar dan Jangan Membunuh Apapun Kecuali Waktu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar