Kacamata SofyanRian

Semua aku ungkapkan dari caraku memandang. Tak peduli orang memandang lain, aku akan tetap memandang dari sudut dimana seharusnya aku memandang karena setiap kacamata memiliki sudut pandang tersendiri.

Minggu, 09 Agustus 2015

Terombang - Ambing menuju Puncak Sumbing - (Pendakian) Gunung Sumbing via Garung

Gunung Sumbing Via Garung, View Gunung Sindoro

Gunung Sumbing – Gunung Sumbing merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 3371 MDPL yang secara administratif terletak di Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Wonosobo, Temanggung dan Magelang. Gunung yang bertipe strato ini terkenal akan keganasan track nya yang dari awal hingga puncak sama sekali tidak ada jalan datarnya (full menanjak).
Gunung Sumbing memiliki empat jalur pendakian dan yang paling terkenal serta sering dilalui oleh pendaki adalah Jalur Garung, Jalur Garung sendiri terbagi atas dua jalur yaitu Jalur Lama dan Jalur Baru. Pada kesempatan ini (2 Januari 2015) saya dan 3 orang rekan tim saya (Bram, Boby YP, dan Ryan N) melakukan pendakian melalui Jalur Lama.
Perjalanan dimulai dari Solo Pukul 08.00 WIB kami berangkat menggunakan sepeda motor dengan rute Salatiga – Ambarawa – Temanggung – Base Camp Garung Gunung Sumbing. Perjalanan dari Solo ke Basecamp Garung melalui rute ini memerlukan waktu kurang lebih 4 Jam. Namun karena saat itu hari Jum’at dan kami harus melaksanakan Sholat Jum’at terlebih dahulu di tengah perjalanan. Kami baru sampai Basecamp Garung sekitar pukul 13.00 WIB.
Basecamp Sumbing (berangkat muka masih pucat)

Sesampainya di Basecamp Garung, kami istirahat sebentar dan berencana memulai pendakian Pukul 15.00 WIB. Namun waktu itu mendadak saya malah sakit karena kelelahan dalam perjalanan (pusing, mual, dan kedinginan). Jadi kami terpaksa menunda keberangkatan, hingga akhirnya setelah beberapa jam saya tidur badan saya kembali terasa segar dan Pendakian dimulai Pukul 17.30.

BASECAMP – POS I
Dari basecamp kami mendapatkan tumpangan mobil pickup warga sampai kampung atas, sampainya kampung atas kami memulai trekking bersama rombongan warga setempat. Tak lama berjalan bersama mereka hujan mulai datang mengguyur kami, sehingga memaksa kami harus berganti kostum menggunakan Jas Hujan. Sialnya adalah waktu itu tidak ada geiter dalam daftar barang bawaan kami jadi tidak ada satu pun anggota tim yang membawa geiter. Akhirnya kami semua memutuskan trekking menggunakan sandal gunung karena jika memakai sepatu trekking waterproof dalam keadaan hujan tanpa geiter sama saja  artinya kita membuat kolam air di sepatu kita.
Sepanjang perjalanan dari Basecamp – Pos I didominasi oleh jalan setapak berbatu (macadam / jalan batu yang tersusun rapi) yang terus menanjak dan berkelok-kelok tidak ada habisnya. Hujan yang lebat disertai kabut dan badai membuat langkah kami semakin berat apalagi waktu itu keadaan saya belum begitu fit. Sebenarnya dari Basecamp – Pos I ini juga bisa dilalui dengan Ojek warga dengan tarif Rp. 30.000,- saja. Menurut mereka (tukang ojek) dengan menggunakan jasanya kita bisa sampai di POS I dalam 15 menit atau dengan kata lain bisa hemat waktu 2 jam. Namun kurang afdol rasanya kalau baru berangkat saja sudah manja. Rombongan kami tiba di Pos I pukul 19.30 WIB.
Nebeng Pick Up

Di Pos I kami berhenti untuk istirahat, makan dan menunaikan sholat. Terdapat warung tidak permanen milik warga di sebelah shelter Pos I ini. Di warung tersebut kami membeli gorengan tempe khas wonosobo yang sangat nikmat saat dimakan menemani teh panas manis yang juga kami beli dari warung tersebut. Kocaknya disaat saya, boby, dan bram menghabiskan beribu-ribu rupiah di warung ini si Ryan hanya mengeluarkan nol rupiah saja, hebatnya kekenyangan yang dia dapat justru melebihi kami (minta dengan muka melas). Tentunya hal itu sangat memalukan bagi teman-temanya. Tapi ya bagaimana lagi, ya seperti itulah Ryan teman kami. Yang namanya teman ya harus dapat memahami, memaklumi, dan menghargai bagaimana kekurangan dan kelebihan sahabatnya, jadi bagaimanapun sifatnya, dia tetap teman saya yang harus saya gandeng menuju puncak bersama-sama.

POS I – POS II
Kami kembali melanjutkan perjalanan dari Pos I Pukul 21:00 WIB,  jalur dari Pos I menuju Pos II berupa tanah padat yang juga terus menanjak, tanjakan disini masih tergolong manusiawi, namun guyuran air hujan membuat langkah kaki kami lebih sulit karena tanah menjadi agak licin. Banyak sekali percabangan di jalur ini yang akhirnya menjadi satu.
Kami tiba di Pos II sekitar pukul 22.50 WIB, oleh penduduk setempat Pos II ini dinamai Genus. Di Pos II terdapat tanah yang lumayan lapang dan dapat digunakan untuk mendirikan 2-3 tenda ukuran sedang. Kami hanya berhenti sebentar untuk minum di Pos ini, kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan.

POS II – POS III
Break POS II -POS III
Trek semakin menggila setelah dari Pos II, kemiringan dan licinya tanah akibat hujan disertai angin membuat perjalanan semakin sulit. Berkali-kali kami terpeleset secara bergantian. Suara angin yang mengerikan dari atas semakin menyiutkan niat kami untuk sampai puncak.
Berkali-kali semangat kami tumbang di jalur menuju Pos III ini, secara bergantian kami terus menyemangati satu sama lain agar kembali bangkit dan kembali melanjutkan perjalanan. Tak jarang kaki-kaki kami digunakan sebagai pijakan rekan di depan kami agar dapat naik dan tidak terpeleset.
Sulitnya medan membuat perjalanan kami 2 kali lebih lama. Kami baru tiba di Pos III Pukul 01.00 dini hari, padahal normalnya di musim kemarau tanpa hujan pendaki lain dalam tulisan-tulisanya hanya membutuhkan waktu 1 jam dari Pos II – Pos III ini.  Pos III (Seduplak Roto) sendiri merupakan tanah yang lumayan lapang dan rata serta mampu menampung sekitar 6 Tenda.

POS III – Pestan
Di Pos III kami istirahat cukup lama dan kembali melanjutkan perjalanan Pukul  01.30. Trek yang dilalui masih tidak jauh berbeda dengan trek yang sebelumnya kondisi  vegetasi yang mulai menipis membuat angin semakin leluasa mengombang-ambingkan kami. Angin yang kencang disertai rintikan air hujan membuat suhu semakin turun entah menjadi berapa derajat waktu itu.
Dinginya malam pun semakin leluasa menembus jaket yang saya kenakan. Kami semakin kelelahan dan benar-benar patah semanggat dengan keadaan seperti itu. Kami akhirnya memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda, tetapi tidak ada satupun tempat datar yang kami temui. Sampai akhirnya kami menemukan tempat yang kami anggap layak untuk mendirikan tenda walaupun masih tetap miring.
Ditempat itu sudah berdiri 2 tenda lain rombongan dari Jakarta, dari dalam tenda salah satu dari mereka mengatakan bahwa sudah terjebak ditempat itu selama 1 Minggu karena badai, mereka belum mencapai puncak dan mengatakan akan turun besok pagi kalau cuaca tidak badai lagi. Saat mendirikan tenda kami sangat kuwalahan melawan angin yang begitu kencang dan meniup tenda kami kesana kemari, apalagi waktu itu Bram sudah benar-benar drop karena kedinginan dan kelelahan. Otak yang beku dan tubuh yang sangat lelah memicu emosi dan rasa ego kami, saling membentak dan menyalahkan tidak bisa terelakan lagi.
Pestan

Dengan keadaan seperti itu tenda baru bisa didirikan setelah 45 menit, itupun kita masih harus membersihkan air yang masuk ke dalam tenda. Saat sudah memasuki tenda pikiran kami sedikit kembali lebih jernih, emosi mulai mereda, kami kemudian makan nasi bekal dari rumah bersama dengan mie instan hangat sebagai lauk dan kemudian tidur setelah sholat subuh.
Kami melanjutkan perjalanan pukul 08.00 dan kembali lagi-lagi Ryan mulai berulah dengan berbagai alasan dia minta jas hujan pada rombongan sebelah karena jas hujan yang iya kenakan semalam sudah tidak jelas lagi bentuknya. Sepuluh menit dari camp kami, kami sudah sampai di Pestan.

Pestan – Pasar Watu
Di Pestan entah setan apa yang merasuki Ryan dan Boby mereka tanpa sadar mengais-ais sampah yang ditinggalkan pendaki lain yang kurang bertanggung jawab sebelum kami. AJAIB!!! Mereka berdua menemukan 1 kaleng sarden utuh yang masih belum terbuka dan masih jauh dari batas kadaluarsa. Kami pun membawa sarden itu dan segera melanjutkan perjalanan karena kabut dan gerimis kembali datang.
Pasar Watu

Dari pestan trek berubah total, tanjakan semakin menggila dan banyak sekali batu-batu besar yang harus kami lewati sehingga tenaga kami banyak terkuras di jalur ini. Namun demikian jalur menuju Pasar Watu masih dapat dilihat dengan sangat jelas dan terdapat banyak petunjuk arah menuju puncak. Kami tiba di pasar watu pukul 09.00 WIB. Ada sedikit tempat untuk mendirikan camp disini.

Pasar Watu – Watu Kotak
Dari pasar watu kami kembali meneruskan perjalanan menuju Watu Kotak, jalur penyiksaan tidak hanya selesai di Pasar Watu saja. Jalur menuju Watu Kotak semakin tidak manusiawi, tanjakan-tanjakan yang semakin terjal dan ukuran batu yang besar membuat kami berkali-kali mencium lutut sendiri.
Watu Kotak

Kami tiba di watu kotak pukul 09.50. Disini Bram kembali tumbang, dia meminta untuk  “break”. Kami memanfaatkan waktu ini untuk istirahat dan membuat sarapan. Perjalanan kembali dilanjutkan pukul 10.15 WIB, tanpa sadar air minum kami tertinggal 1 botol di Watu Kotak.

Watu Kotak -  Puncak
Dari watu kotak kami masih juga disiksa oleh bebatuan dan tanjakan yang tak kenal kata ampun, di jalur ini gantian Ryan yang tumbang dia tiba-tiba saja berhenti dan tidur ditepi jalur selama 10 menit kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Kami tiba di Puncak Buntu pukul 11.40.
Puncak Buntu (Saya)
Puncak Kawah (Saya, Bram, Ryan, Boby)
Sampai di puncak saya, Boby dan Ryan segera mengekspresikan kebahagian kami dengan mengabadikan momen (berfoto ria). Senyum dan tawa ekspresi kebahagian terganbar jelas di raut muka kami, apalagi sesampainya dipuncak cuaca menjadi agak cerah. Kabut sudah tidak setebal sebelumnya jadi view semakin terlihat indah, namun Bram memilih untuk istirahat dan tidur terlebih dahulu. Setelah bram bangun kami berpindah dari Puncak Buntu ke Puncak Kawah yang lebih tinggi, disana kami bertemu dengan rombongan pendaki lain waktu itu di puncak hanya ada 2 rombongan saja.
Pukul 12.30 Kami kembali turun, kami berhenti sebentar di camp untuk istirahat dan packing. Kemudian kami sampai di POS I Pukul 16.30. Lutut yang sudah menjerit-jerit ditambah badan yang mulai panas-dingin akhirnya memaksa kami untuk turun ke basecamp menggunakan ojek. Ada keseruan tersendiri saat turun menggunakan ojek ini, adrenalin dipacu seolah kita sedang membonceng sepeda downhill dari puncak untuk turun gunung.




DIBUANG SAYANG
Melihat Sindoro
Sedikit Bonus Setelah Pasar Watu 
Flora 1

Flora 2

Nanjak Terus ke Watu Kotak

Kabut Kembali Datang

Break

Sinyal di Watu Kotak

Mie Instant

Ryan Tepar

Habis Tepar (P.Buntu)

Bersama Rombongan Lain

Siap-Siap Turun
Peta Sumbing Via Garung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar