Kacamata SofyanRian

Semua aku ungkapkan dari caraku memandang. Tak peduli orang memandang lain, aku akan tetap memandang dari sudut dimana seharusnya aku memandang karena setiap kacamata memiliki sudut pandang tersendiri.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Surga di Bawah Puncak Lawu - (Pendakian) Lawu Via Candi Cetho

Gupakan Menjangan - Lawu Via Cetho

Sabtu-Minggu, 28 - 29 Maret 2015

Gunung Lawu – Lawu merupakan salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung dengan ketinggian 3265MDPL ini memiliki 5 Jalur Pendakian resmi yaitu jalur Cemoro Sewu (Magetan, Jawa Timur), Cemoro Kandang (Karanganyar, Jawa Tengah), Candi Cetho (Karanganyar), Taman Hutan Raya (Karanganyar), dan Jalur Jogorogo (Ngawi, Jawa Timur). Dari sekian banyak jalur pendakian tersebut, Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang lah Jalur yang paling terkenal, hal ini dikarenakan kedua jalur tersebut merupakan jalur yang relatif lebih mudah, aman dan cepat dibandingkan dengan ketiga jalur lainya. Padahal ketiga jalur yang lain ini justru menawarkan pengalaman yang luar biasa bagi penggiat alam bebas. Keindahan alam yang ada di ketiga jalur tersebut sungguh tak ada duanya.
Dalam perjalanan kali ini Tim kami terdiri dari 5 orang, yaitu Saya (Rian Sofyan), Ibrahim Adam (Bram), Boby Yoga, Rizal Adburahman, dan Eko Abdullah. Kali ini kami memilih melewati Jalur Candi Cetho karena mengingginkan suasana yang lain. Perjalanan dimulai dari rumah saya pukul 21.00 WIB, setelah semua selesai makan malam bersama kami segera menuju Candi Cetho menggunakan sepeda motor. Sebenarnya di jalur ini sangat tidak disarankan untuk melakukan perjalanan di malam hari, namun karena padatnya acara masing-masing anggota tim di siang harinya dengan sangat terpaksa kami nekat melakukan perjalanan di malam hari.
Dalam perjalanan menuju Candi Cetho kami mengalami sedikit masalah. Ban motor Rizal bocor ditenggah perjalanan tanpa disadari dia tertinggal jauh dibelakang, sedangkan saya, Boby dan Bram sudah hampir sampai di Candi Cetho. Akhirnya kami bertiga turun kebawah menghampiri Rizal dan Eko yang waktu itu sedang menunggu ban motor mereka ditambal. Selesainya acara dadakan nambal ban, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju candi cetho.
Pukul 23.30 kami sampai di pintu masuk Candi Cetho, tidak ada satupun orang disana, rumah-rumah warga sudah nampak begitu sepi. Kami kebinggungan bagaimana caranya bisa registrasi, sampai akhirnya saya nekat menggedor pintu rumah warga setempat. Akhirnya Pemilik rumah itu keluar, alhamdulillah dia tidak marah justru malah sangat ramah, kami  menitipkan kertas berisi nama-nama anggota Tim dan motor kami ke Bapak tersebut dan segera bergegas mengawali pendakian.

START PENDAKIAN
Pintu Masuk Candi Cetho
Pendakian dimulai pukul 00.30 Tepat, perjalanan diawali dengan melewati kompleks Candi Cetho yang terlihat begitu angker di malam hari, seperti biasa Bram bertugas menjadi leader dan saya diposisi paling belakang sebagai sweeper. Jalur yang kami lewati cukup datar sehingga tempo langkah kaki bisa sedikit lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan kami hanya melihat hutan gelap tanpa seorang pun didalamnya. Bulatnya bulan purnama diselimuti kabut tipis dan banyaknya mitos yang beredar tentang jalur ini membuat suasana perjalanan semakin angker.
Tidak ada yang bisa diceritakan di hari itu selain seramnya malam. Pos I kita lewati begitu saja tanpa sadar, tiba-tiba sekitar pukul 02.30 kita sudah menemui Pos II dengan 2 tenda berdiri disana. Sedikit rasa lega keluar dihati saya karena merasa kami tidak sendirian malam itu. Kami Memutuskan untuk tidak berhenti di Pos II dan melanjutkan perjalanan.
Awalnya kami berencana mendirikan tenda di Pos III (Cemoro Dowo), batas maksimal tubuh memang sudah tidak bisa ditawar lagi setengah jam berjalan dari Pos II kami sudah terasa ngantuk terutama Boby yang tidak terbiasa tidur malam, berbagai keluhan mengantuk sudah dilontarkan sejak dari Pos II tadi, akhirnya kami menemukan tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Tempat yang sangat datar dan hangat karena dikelilingi semak-semak. Ada sedikit masalah disini, kami hanya membawa 1 tenda yang berkapasitas 3-4 orang (ukuran indo). Karena pada awalnya Rizal memang tidak berniat untuk ikut, hingga akhirnya mendadak suasana hati mendorongnya untuk ikut dalam perjalanan ini. Kemudian tenda kecil yang kami bawa itu dipaksa dijejali 5 orang. Seusai mendirikan tenda dan makan nasi + mie instant, kami akhirnya tidur dengan posisi Boby tidur dibawah kaki 4 anggota tim yang lain.

KEMAH DI DEKAT MAYAT
Bangun Tidur Tanpa Sadar Bersebelahan dengan Mayat
Pagi hari sudah tiba sinar matahari yang tembus melewati celah-celah semak membangunkan kami berempat kecuali Bram. Kami segera bergegas keluar tenda untuk masak sarapan pagi. Ada sedikit hal yang ganjal terjadi saat itu. Banyak sekali lalat di sekitar tenda kami disertai bau tidak sedap semacam ada bangkai. Pikir kami saat itu mungkin ada bangkai binatang disekitar camp kami. Alangkah kagetnya diri kami ketika kejanggalan itu terjawab seminggu tepat setelah kami turun. Ditemukan mayat seorang petapa didekat tempat kami mendirikan kemah.

Waktu menunjukan Pukul 09.00, rombongan yang semalam berkemah di Pos II sudah menyusul kami. Kami masih sedikit bersantai-santai sambil berusaha membanggunkan Bram. Sampai akhirnya Pukul 10.00 Kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalur masih lumayan datar dengan dihiasai sedikit tanjakan-tanjakan kecil. Pepohonan yang tumbuh disekitar jalur membuat perjalanan terasa sangat sejuk dan memanjakan kami. Kamu berjalan dengan sangat santai sambil menikmati hutan yang masih sangat perawan ini. Satu jam kami berjalan sampailah kami di Pos III, terdapat shelter kecil disini, kami berhenti sebentar untuk istirahat minum. Dari pos III kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos IV. Jalur menuju Pos IV ini masih sama dengan sebelumnya.

PERJALANAN MENUJU BULAK PAPERANGAN (MEDAN PASUKAN PERANG BRAWIJAYA V MAJAPAHIT VS PASUKAN RADEN PATAH KERAJAAN DEMAK)
Bulak Paperangan (POS V)
Kami memutuskan tidak istirahat di Pos IV. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Ondo Rante, tempat ini dijuluki Ondo Rante karena berupa bukit dengan jalan yang berkelok-kelok, saat itu kabut tebal kembali datang. Suasana mendadak berubah, kami seperti berada di alam lain seperti dalam film “Silent Hill”. Kami berhenti sebentar di tempat ini untuk mengabadikan momen menyenangkan ini, hingga kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pos V.

Pukul 14.15 Kami sampai di Pos V, Pos ini berupa hamparan Sabana yang sangat luas yang di namakan Bulak Paperangan, konon katanya disinilah medan perang antara Pasukan Prabu Brawijaya V melawan Pasukan Raden Patah yang mengejarnya hingga Puncak Lawu, saat itu yang terpikirkan di pikiran kami adalah “Buset ini orang-orang udah susah-suah naik gunung, mana jaman itu pasti jalurnya belum ada. Cuma buat perang?” SANGAR!!!. Bulak paperangan ini juga merupakan jalur pertemuan antara jalur Candi Cetho dan jalur Jogorogo. Kami menghabiskan banyak waktu untuk berfoto-foto dan istirahat ditempat ini.
Jalan Menuju Gupakan Menjangan
Jalan Menuju Gupakan Menjangan 2



DILANDA HUJAN DI GUPAKAN MENJANGAN
Gupakan Menjangan
Pukul 15.00 kami kembali melanjutkan perjalanan, dari Pos V kita harus mengambil arah kanan menuju jalan datar yang diapit 2 bukit kecil dan terdapat kayu tumbang menutupi tengah jalur. Jangan mengambil jalur lurus dari persimpangan ink karena jika lurus kita akan masuk jalur menuju Jogorogo. Satu jam berjalan kami kembali menemui sabana luas yang tidak ada habisnya disini terdapat bekas rawa-rawa yang masih terlihat jelas “Subhanallah” hanya kata itu yang dapat mewakili indahnya tempat ini, air mata ingin menetes rasanya ketika melihat begitu megah ciptaanya yang pada hari itu tidak ada satu orang pun yang melewati tempat ini kecuali kami berlima dan rombongan yang menyalip kami di kemah tadi pagi. Kami berencana berhenti sebentar untuk makan siang dan melaksanakan Sholat. Boby dengan Eko sholat duluan sedangkan yang lain bertugas memasak nasi dan sate koyor sebagai lauknya.
Saat kami sedang asik-asiknya masak tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, keadaan diperburuk ketika Bram dan Eko lupa membawa Jas Hujan, dengan sangat terpaksa kami akhirnya memutuskan untuk bermalam di hutan kecil yang merupakan Jalur menuju Sendang Macan,  pupus sudah harapan untuk menginap di warung Mbok Yem sembari menikmati pecel khas Puncak Lawu buatanya. Hujan deras mengguyur kami saat mendirikan tenda. Badan saya jadi basah kuyup sampai kedinginan dan gemetar. Terpal alas tenda berubah menjadi bak penampungan air, kami harus mengeringkan alas tenda dengan kaos yang kami kenakan. Sekitar pukul 18.00 tenda selesai berdiri, kami segera masuk kemudian menjamak sholat Maghrib dengan Isya didalam tenda. Setelah sholat kami bergegas tidur. Kali ini Boby kapok tidur dibawah kaki rekanya. Kami akhirnya tidur dengan posisi sejajar. Dengab posisi seperti itu tentunya tenda terasa sangat sempit sehingga susah sekali untuk menggerakan badan. Saya tidak bisa tidur nyeyak semalaman.
KEHABISAN AIR MINUM, MINUM KUBANGAN AIR HUJAN
Kehabisan Air Minum
Pukul 03.00 pagi saya bangun dan melihat keluar tenda, diluar cuaca masih sangat buruk. Hujan badai berkabut masih menjadi momok hingga subuh. Pukul 6 pagi saya baru berani keluar tenda untuk menjemur pakaian dan barang-barang yang basah tadi malam. Saya baru tersadar kalau air tinggal ¾ botol saja, kami kebingungan dengan masalah air ini. Di sekitar camp kami memang terdapat petunjuk menuju sendang macan, saya boby dan eko mencoba menelusuri petunjuk tersebut namun nampaknya sangat jauh, kemungkinan jaraknya sama dengan jarak kepuncak. Dengan pertimbangan itu dan takut bertemu macan Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan mencari sendang macan dan kembali ke tenda, diperjalanan menuju ke tenda saya melihat se ekor kijang yang sedang sibuk mencari makan.
Pukul setengah 9 pagi kami kembali melanjutkan perjalanan, tempo perjalanan semakin diperlambat karena persedian air tinggal sedikit sekali, cuaca yang panas dan jalan yang semakin menanjak membuat kami merasa sangat haus. Sampai akhirnya kami menemukan kubangan air yang terisi penuh dengan air hujan tadi malam. Kami mengambil air itu dan menampungnya dalam botol kami. Sebagian kami minum langsung tanpa dimasak, air itu benar-benar terasa segar sekali ketika memasuki tenggorokan kami yang sudah mengering. Usai mengambil air kami kembali melanjutkan perjalanan

MENUJU PASAR SETAN DAN PUNCAK LAWU
Pasar Dieng
Pukul 10.00 pagi kami sampai di Pasar Dieng (batu) atau sering disebut juga dengan Pasar Setan karena menurut mitos setiap malam tertentu sering terdengar suara gamelan dan suara seperti orang-orang dipasar. Namun selama perjalanan kami tidak dapat membuktikan mitos tersebut. Dari Pasar Dieng ini jalanan semakin menanjak dan sangat melelahkan apalagi saat itu Kerir masih menggantung membebani punggung kami
Pukul 10:58 akhirnya sampai dipuncak Gunung Lawu, memang sebagaian dari kami sudah beberapa kali mencapai puncak ini tapi tetap saja ada kegembiraan tersendiri ketika dapat mencapai klimaks pada suatu perjalanan yang lain. Di puncak inilah akhirnya kami merasa kembali ke peradaban karena dipuncak kami bertemu dengan banyak rombongan pendaki lain. Setelah beristirahat sejenak di bawah tugu puncak, kami memasak sisa logistik yang ada. Sembari makan kami rembugan bersama mau pulang lewat mana? Dengan berbagai pertimbangan kami memutuskan memilih turun lewat jalur Cemoro Sewu. Seusai makan kami langsung turun menuju Sendang Derajat. Di  Sendang derajat kami kembali mengisi air, kemudian langsung turun ke Pos V.
Puncak Lawu

TURUN TERCEPAT, SENDANG DERAJAT – CEMORO SEWU (90 Menit)

Sampainya di Pos V saya iseng-iseng bicara dengan Boby “Bob kok mau bapake sik dodolan nang sendang derajat ngomong iso ya mudun lawu mung siji setengah jam. / Bob kok tadi bapaknya bilang bisa ya turun gunung lawu Cuma satu setengah jam?”. “iyoi mas, aku yora percoyo. / Iya mas, aku kok gak percaya”. “coba wae piye? / lha dicoba aja gimana?”. “ayo to, mlayu terus ya teko ngisor?, ayo, lari terus ya sampai bawah.” Setelah selesai melakukan obrolan itu saya dengan Boby pun segera lari turun kebawah, bram, rizal dan eko mengikuti dari belakang. Saya dan Boby terus berlari tanpa berhenti di Pos – Pos yang ada. Alhasil taraaaat, kami sampai di Base Camp pendakian Cemoro sewu dalam waktu 1 Jam 36 Menit dengan sehat dan selamat. Kemudian Rizal, Bram, dan Eko menyusul kami satu setengah jam di belakang.




















DIBUANG SAYANG
Tanaman 1
Tanaman 2
               Ondo Rante 3
Ondo Rante 2
Bulak Paperangan 1
Bulak Paperangan 
                             Sholat
Sendang Derajat


Selfie

Sendang Derajat
Sampai Cemoro Sewu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar