![]() |
| Gupakan Menjangan - Lawu Via Cetho |
Sabtu-Minggu, 28 - 29 Maret 2015
Dalam perjalanan kali ini Tim
kami terdiri dari 5 orang, yaitu Saya (Rian Sofyan), Ibrahim Adam (Bram), Boby
Yoga, Rizal Adburahman, dan Eko Abdullah. Kali ini kami memilih melewati Jalur
Candi Cetho karena mengingginkan suasana yang lain. Perjalanan dimulai dari
rumah saya pukul 21.00 WIB, setelah semua selesai makan malam bersama kami segera menuju Candi Cetho menggunakan sepeda motor. Sebenarnya di
jalur ini sangat tidak disarankan untuk melakukan perjalanan di malam hari,
namun karena padatnya acara masing-masing anggota tim di siang harinya dengan
sangat terpaksa kami nekat melakukan perjalanan di malam hari.
Dalam perjalanan menuju Candi
Cetho kami mengalami sedikit masalah. Ban motor Rizal bocor ditenggah
perjalanan tanpa disadari dia tertinggal jauh dibelakang, sedangkan saya, Boby dan Bram sudah hampir sampai
di Candi Cetho. Akhirnya kami bertiga turun kebawah menghampiri Rizal dan Eko
yang waktu itu sedang menunggu ban motor mereka ditambal. Selesainya acara
dadakan nambal ban, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju candi cetho.
Pukul 23.30 kami sampai di
pintu masuk Candi Cetho, tidak ada satupun orang disana, rumah-rumah warga sudah nampak begitu sepi. Kami kebinggungan bagaimana caranya bisa registrasi,
sampai akhirnya saya nekat menggedor pintu rumah warga setempat. Akhirnya Pemilik rumah itu
keluar, alhamdulillah dia tidak marah justru malah sangat ramah, kami menitipkan kertas berisi nama-nama anggota
Tim dan motor kami ke Bapak tersebut dan segera bergegas mengawali pendakian.
Pendakian dimulai pukul 00.30
Tepat, perjalanan diawali dengan melewati kompleks Candi Cetho yang terlihat
begitu angker di malam hari, seperti biasa Bram bertugas menjadi leader dan saya
diposisi paling belakang sebagai sweeper. Jalur yang kami lewati cukup datar
sehingga tempo langkah kaki bisa sedikit lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan kami hanya melihat hutan gelap tanpa seorang pun
didalamnya. Bulatnya bulan purnama diselimuti kabut tipis dan banyaknya mitos
yang beredar tentang jalur ini membuat suasana perjalanan semakin angker.
Tidak ada yang bisa diceritakan
di hari itu selain seramnya malam. Pos I kita lewati begitu saja tanpa sadar,
tiba-tiba sekitar pukul 02.30 kita sudah menemui Pos II dengan 2 tenda berdiri
disana. Sedikit rasa lega keluar dihati saya karena merasa kami tidak sendirian
malam itu. Kami Memutuskan untuk tidak berhenti di Pos II dan melanjutkan
perjalanan.
Awalnya kami berencana mendirikan tenda
di Pos III (Cemoro Dowo), batas maksimal tubuh memang sudah tidak bisa ditawar
lagi setengah jam berjalan dari Pos II kami sudah terasa ngantuk terutama Boby
yang tidak terbiasa tidur malam, berbagai keluhan mengantuk sudah dilontarkan
sejak dari Pos II tadi, akhirnya kami menemukan tempat yang pas untuk mendirikan
tenda. Tempat yang sangat datar dan hangat karena dikelilingi semak-semak. Ada
sedikit masalah disini, kami hanya membawa 1 tenda yang berkapasitas 3-4 orang
(ukuran indo). Karena pada awalnya Rizal memang tidak berniat untuk ikut, hingga akhirnya mendadak suasana hati mendorongnya untuk ikut dalam perjalanan ini. Kemudian tenda kecil yang kami bawa itu dipaksa dijejali 5 orang. Seusai mendirikan tenda
dan makan nasi + mie instant, kami akhirnya tidur dengan posisi
Boby tidur dibawah kaki 4 anggota tim yang lain.
KEMAH DI DEKAT MAYAT
![]() |
| Bangun Tidur Tanpa Sadar Bersebelahan dengan Mayat |
Waktu menunjukan Pukul 09.00,
rombongan yang semalam berkemah di Pos II sudah menyusul kami. Kami masih
sedikit bersantai-santai sambil berusaha membanggunkan Bram. Sampai akhirnya
Pukul 10.00 Kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalur masih lumayan datar
dengan dihiasai sedikit tanjakan-tanjakan kecil. Pepohonan yang tumbuh
disekitar jalur membuat perjalanan terasa sangat sejuk dan memanjakan kami.
Kamu berjalan dengan sangat santai sambil menikmati hutan yang
masih sangat perawan ini. Satu jam kami berjalan sampailah kami di
Pos III, terdapat shelter kecil disini, kami berhenti sebentar untuk istirahat
minum. Dari pos III kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos IV. Jalur
menuju Pos IV ini masih sama dengan sebelumnya.
PERJALANAN MENUJU BULAK
PAPERANGAN (MEDAN PASUKAN PERANG BRAWIJAYA V MAJAPAHIT VS PASUKAN RADEN PATAH KERAJAAN
DEMAK)
![]() |
| Bulak Paperangan (POS V) |
DILANDA HUJAN DI GUPAKAN MENJANGAN
![]() |
| Gupakan Menjangan |
Saat kami sedang asik-asiknya
masak tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung, keadaan diperburuk ketika Bram dan Eko lupa
membawa Jas Hujan, dengan sangat terpaksa kami akhirnya memutuskan untuk
bermalam di hutan kecil yang merupakan Jalur menuju Sendang Macan, pupus sudah harapan untuk menginap di warung
Mbok Yem sembari menikmati pecel khas Puncak Lawu buatanya. Hujan deras
mengguyur kami saat mendirikan tenda. Badan saya jadi basah kuyup sampai kedinginan dan gemetar. Terpal alas tenda berubah menjadi bak penampungan
air, kami harus mengeringkan alas tenda dengan kaos yang kami
kenakan. Sekitar pukul 18.00 tenda selesai berdiri, kami segera masuk kemudian menjamak
sholat Maghrib dengan Isya didalam tenda. Setelah sholat kami bergegas tidur. Kali ini
Boby kapok tidur dibawah kaki rekanya. Kami akhirnya tidur dengan
posisi sejajar. Dengab posisi seperti itu tentunya tenda terasa sangat sempit sehingga susah sekali untuk menggerakan badan. Saya tidak
bisa tidur nyeyak semalaman.
KEHABISAN AIR MINUM, MINUM KUBANGAN AIR HUJAN
![]() |
| Kehabisan Air Minum |
Pukul setengah 9 pagi kami
kembali melanjutkan perjalanan, tempo perjalanan semakin diperlambat karena
persedian air tinggal sedikit sekali, cuaca yang panas dan jalan yang semakin
menanjak membuat kami merasa sangat haus. Sampai akhirnya kami menemukan
kubangan air yang terisi penuh dengan air hujan tadi malam. Kami mengambil air
itu dan menampungnya dalam botol kami. Sebagian kami minum langsung tanpa
dimasak, air itu benar-benar terasa segar sekali ketika memasuki tenggorokan
kami yang sudah mengering. Usai mengambil air kami kembali melanjutkan
perjalanan
MENUJU PASAR SETAN DAN PUNCAK
LAWU
![]() |
| Pasar Dieng |
Pukul 10:58 akhirnya sampai
dipuncak Gunung Lawu, memang sebagaian dari kami sudah beberapa kali mencapai
puncak ini tapi tetap saja ada kegembiraan tersendiri ketika dapat mencapai
klimaks pada suatu perjalanan yang lain. Di puncak inilah akhirnya kami merasa
kembali ke peradaban karena dipuncak kami bertemu dengan banyak rombongan pendaki lain. Setelah beristirahat sejenak di bawah tugu puncak, kami
memasak sisa logistik yang ada. Sembari makan kami rembugan bersama mau pulang
lewat mana? Dengan berbagai pertimbangan kami memutuskan memilih turun lewat
jalur Cemoro Sewu. Seusai makan kami langsung turun menuju Sendang Derajat. Di Sendang derajat kami kembali mengisi air,
kemudian langsung turun ke Pos V.
![]() |
| Puncak Lawu |
TURUN TERCEPAT, SENDANG DERAJAT – CEMORO
SEWU (90 Menit)
Sampainya di Pos V saya iseng-iseng bicara dengan Boby “Bob kok mau bapake sik
dodolan nang sendang derajat ngomong iso ya mudun lawu mung siji setengah jam.
/ Bob kok tadi bapaknya bilang bisa ya turun gunung lawu Cuma satu setengah
jam?”. “iyoi mas, aku yora percoyo. / Iya mas, aku kok gak percaya”. “coba wae
piye? / lha dicoba aja gimana?”. “ayo to, mlayu terus ya teko ngisor?, ayo,
lari terus ya sampai bawah.” Setelah selesai melakukan obrolan itu saya
dengan Boby pun segera lari turun kebawah, bram, rizal dan eko mengikuti dari
belakang. Saya dan Boby terus berlari tanpa berhenti di Pos – Pos yang ada. Alhasil
taraaaat, kami sampai di Base Camp pendakian Cemoro sewu dalam waktu 1 Jam 36
Menit dengan sehat dan selamat. Kemudian Rizal, Bram, dan Eko menyusul kami
satu setengah jam di belakang.























Tidak ada komentar:
Posting Komentar